ENERGEIA [ENERGY RESILIENCE] : Energi yang tangguh dan berkesinambungan.
BERHASIL HIDUP, BUKAN HIDUP BERHASIL
– Ps. Hanny Andries
Berhasil hidup adalah ketika kita meraih tujuan Tuhan yang telah memberikan kita kehidupan, sedangkan hidup berhasil adalah ketika kita meraih tujuan kita dalam kehidupan. Semua keberhasilan yang ada di luar Tuhan bersifat sementara.
Pengkhotbah 9:11-12 menyampaikan bahwa:
- Pelari tercepat tidak selalu menang dalam perlombaan.
- Prajurit terkuat tidak selalu menang dalam pertempuran.
- Orang bijak kadang-kadang bisa kelaparan.
- Orang terpelajar tidak selalu menjalani kehidupan yang sukses.
Orang tidak pernah bisa memprediksi kapan masa sulit akan datang. Seperti ikan dalam jaring atau burung dalam penangkap, orang terperangkap oleh tragedi yang tiba-tiba. Sebab itu, keberhasilan tidak ditentukan oleh kekuatan kita yang sementara, melainkan melalui energi ilahi yang ada dalam diri kita.
Hidup berhasil diukur dari apa yang engkau raih dalam hidupmu, tetapi berhasil hidup diukur dari berapa banyak kehidupan yang engkau bangun lewat hidupmu.
“To know Him is to love Him” — Ketika kita mengenal Dia, kita pasti mengasihi Dia (Yeremia 9:23-24). Kalau kita mengasihi Dia, kita juga mengasihi saudara-saudara kita, "Love your neighbor," (Matius 22:30-37).
Hidup atau mati kita adalah milik Tuhan (Roma 14:8). Untuk merebut kehidupan yang kekal, kita harus Berhasil Hidup (1 Timotius 6:12).
— Hidup adalah sebuah perjalanan, bukan persaingan.
Kita seperti menaiki kereta api (train of life), di mana kita melewati banyak stasiun; ada yang turun dan naik. Saat lahir, kita bertemu orang tua yang kita pikir akan selalu bersama kita. Namun, di suatu stasiun, mereka turun dan meninggalkan kita. Di perjalanan ini, kita bertemu penumpang lain yang sangat berarti—pasangan hidup, saudara, teman, anak, keponakan, dan cucu, yang membuat perjalanan ini penuh dengan sukacita, dukacita, bahkan selamat tinggal.
Energeia akan memampukan kita untuk memandang semua penumpang dan membangun kehidupan yang baik bersama mereka. Kita tidak tahu di stasiun mana kita akan turun, dan orang bisa turun secara tiba-tiba dan meninggalkan kekosongan. Oleh karena itu, jadilah penumpang yang baik, saling memaafkan, dan memberikan yang terbaik bagi orang lain, agar saat kita turun, kita tidak meninggalkan kursi yang kosong.
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18).
— Tetaplah memikirkan yang baik (Filipi 4:8-9).
Saat kita menghadapi orang yang mengecewakan, energeia akan mengubah kekhawatiran menjadi hikmat dan semangat. Semua orang yang kita temui ada untuk mengasah kita, maka isilah pikiran dengan segala yang baik (Amsal 27:17).
Efesus 6:8: “Kamu tahu bahwa setiap orang, baik hamba maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.”