ATTITUDE OF GIVING
Ps. George Rudi Pasaribu
Everyone Need Everyone
Bagaimana kita bisa memiliki perspektif dari sebuah pemberian? (2 Korintus 9:6-7)
Yusuf adalah salah satu contoh tokoh yang memiliki sikap hati. Ia mengalami 3 fase dalam kehidupannya;
1) Masa-masa dihadapan orangtuanya.
2) Masa kesukaran dan penderitaan, yaitu dijual oleh saudaranya, dipenjara, dilupakan oleh orang yang ia tolong.
3) Masa kejayaannya mendapat tahta oleh Firaun.
Dalam 3 fase yang berbeda, Yusuf tetap bertahan dalam sikap hati yang serupa. Kejadian 39:6,
".. adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya".
Melalui Yusuf, ada pembelajaran yang diberikan kepada kita; Yusuf tidak dikendalikan oleh perasaan dan emosinya. Perasaan bukanlah instruksi, tetapi biarlah kita dikontrol oleh kebenaran.
Begitu juga dalam memberi, ada SIKAP yang harus kita miliki.
1) Memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7 MSG).
Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Memberi adalah ekspresi mengasihi Tuhan dan mengasihi pekerjaan Tuhan. Memberi membuat kita terlibat dalam pekerjaan Tuhan di bumi ini.
Pada dasarnya tidak ada yang bisa kita bandingkan dengan kebaikan Tuhan (Mazmur 116:12), tetapi memberi menjadi kesempatan bagi kita untuk menghargai apa yang Tuhan sudah beri.
2) Memberi sebagai tindakan iman dan kepercayaan (Amsal 3:9-10).
Lumbung-lumbung kita akan diisi melimpah apabila kita memuliakan Tuhan dengan harta kita. Kelimpahan tidak ada di depan, tetapi membutuhkan waktu karena ada proses, disitulah memberi melibatkan iman.
Memberi bukan hanya tentang mengeluarkan atau menyumbangkan sesuatu: itu adalah refleksi mendalam dari pemahaman kita tentang kasih dan pengorbanan Tuhan. Dengan memberi dengan sukacita, rasa syukur, iman, dan ketaatan, kita menghormati Tuhan dan menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami kedalaman kasih-Nya kepada kita.
3) Memberi dengan hati yang tulus dan ikhlas (Mar 12:41-44).
Persembahan yang diberikan Wanita Janda itu bukan soal nominal angka, tetapi persentase. Dia memberi dengan hati yang tulus; ia tau ia melakukannya untuk Tuhan dan tau bahwa ia tetap dalam pemeliharaan Tuhan.
4) Memberi sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Tuhan (Maleakhi 3:10).
Ketidakberdayaan kita bukan alasan bagi kita untuk tidak bisa berbuat sesuatu bagi kerajaan Tuhan. Memberilah dengan nilai korban, dimana iman kita dilibatkan. Ketika kita memberi kembali kepada Tuhan, ini adalah indikator prioritas kita bahwa kita mengasihi Tuhan (Matius 6:21).
Jadi memberi bukan hanya tentang tindakan memberi, tapi tentang apa yang kita rela korbankan. Tindakan memberi melebihi sekedar mengeluarkan sesuatu dengan nominal tertentu, melainkan refleksi dari sesuatu yang lebih ilahi.
"Jangan lihat memberi sebagai kewajiban tetapi sebuah kehormatan"