/ DEODAR CEDAR (Part 1)

DEVOTION 04/07/2026

DEODAR CEDAR (Part 1)

MENGUBAH BADAI JADI PENYEMBAHAN

Habakkuk 3:17-18

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”

Di antara berbagai jenis pohon aras, ada satu yang sangat unik, yaitu Deodar Cedar (Cedrus deodara).

Pohon ini tumbuh di lereng Pegunungan Himalaya, pada ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Ia hidup di tempat yang dingin, berkabut, dan sering diterpa angin pegunungan yang sangat kuat.

Berbeda dengan jenis aras lainnya yang cenderung kaku, cabang-cabang Deodar lebih panjang, lentur, dan menjuntai. Daunnya yang halus membuat setiap hembusan angin menghasilkan suara desir yang indah.

Banyak pendaki gunung menggambarkan hutan Deodar seperti sedang “bernyanyi” ketika angin melewati lembah.

Menariknya, Deodar tidak mengeluarkan suara ketika cuaca tenang. Ia justru bernyanyi ketika angin bertiup.

Inilah gambaran kehidupan orang percaya.

Banyak orang memuji Tuhan ketika hidup berjalan baik.

Namun penyembahan yang paling berharga bukanlah yang lahir di musim nyaman, melainkan yang keluar dari hati yang tetap percaya ketika badai menerpa.

Ketika Ayub kehilangan semuanya, ia tetap berkata,

“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” (Ayub 1:21)

Ketika Paulus dan Silas dirantai di penjara, mereka tidak meratap. Mereka menyanyi.

  • Mereka tidak menunggu pintu penjara terbuka untuk memuji Tuhan.
  • Mereka memuji Tuhan sehingga pintu penjara terbuka.

Sering kali kita meminta Tuhan menghilangkan badai.

Padahal Tuhan sedang memakai badai untuk mengeluarkan lagu yang selama ini tersembunyi di dalam hati kita.

Tanpa angin, dunia mungkin tidak pernah mengetahui bahwa Aras Deodar mampu bernyanyi.

Tanpa pencobaan, dunia mungkin tidak pernah melihat kualitas iman kita.

Mungkin hari-hari ini Tuhan mengizinkan tekanan datang bukan untuk menghancurkan kita, tetapi supaya dunia mendengar lagu penyembahan yang lahir dari hati yang mengasihi-Nya.

  • Iblis ingin badai membungkam imanmu.
  • Tetapi Roh Kudus ingin badai justru memperdengarkan lagu kemenanganmu.

Jika Anda mengikuti semua renungan harian yang saya bagikan mungkin Anda berpikir saya sedang berteori belaka.

Tapi sesungguhnya saya sedang berbagi fakta kehidupan saya selama berjalan bersama Tuhan.

Anda bisa bayangkan;

Tanggal 14 Januari 2024 isteri saya ibu Vera dipanggil Tuhan, September 2024 saya di diagnosa kanker pankreas.

Kesedihan belum juga hilang, saya harus menjalani kemoterapi tiga bulan, dalam kesendirian.

Lalu tanggal 18 Februari 2025 saya menjalani operasi yang nyaris gagal selama 12 jam, kemudian masih dilanjukan kemoterapi yang sangat menyakitkan selama 3 bulan lagi.

Bagi saya badai itu terlalu besar untuk saya hadapi.

SEANDAINYA AKAR SAYA KURANG DALAM FIRMAN-NYA, IMAN SAYA PASTI TUMBANG.

Tapi ditengah badai itu justru muncul belasan lagu-lagu pujian penyembahan profetik yang membangkitkan iman, pengharapan dan kekuatan.

  • Bukan lagu tentang kematian.
  • Bukan lagu tentang kesedihan.
  • Bukan lagu tentang kanker.
  • Bukan lagu tentang kesakitan .
  • Melainkan lagu tentang kasih setia Tuhan yang selalu hadir di setiap musim hidup saya.

Bahkan saat ini Roh kudus sedang membisikan sebuah tembang pujian baru dalam roh saya untuk di nyanyikan, dari

Mazmur 103:1-4

Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

Dia yang mengampuni segala kesalahanmu,

yang menyembuhkan segala penyakitmu,

Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.

Pesan Tuhan buat Anda hari ini

Ketika tekanan datang:

  • Jangan biarkan keluhan menjadi bahasa pertama kita,
  • Jangan biarkan ketakutan mengambil alih penyembahan,
  • Jangan menunggu keadaan berubah baru mulai memuji Tuhan.

Belajarlah seperti Deodar Cedar.

Semakin keras angin bertiup, semakin indah lagu yang keluar.

Orang yang DEWASA ROHANI

bukanlah orang yang tidak pernah mengalami badai.

Melainkan orang yang tetap dapat bersyukur dan menyembah di tengah badai.

  • Bukan marah.
  • R88;Bukan tersinggung.
  • R88;Bukan childish.
  • Bukan self-pity.
  • Bukan emosional.
  • R88;Bukan mengucilkan diri.

Melainkan orang yang

  • Tetap tenang.
  • R88;Tetap tersenyum.
  • R88;Tetap mengasai diri dan perkataan.
  • R88;Tetap membawa damai.

Orang yang dewasa rohani bukan juga orang yang paling banyak tahu Firman, paling sering baca Firman.

Melainkan orang yang berakar dan bertumbuh dalam Firman Tuhan, melakukan Firman Tuhan, dan menghasilkan buah roh yaitu,

  • Kasih,
  • Sukacita,
  • Damai sejahtera,
  • Kesabaran,
  • Kemurahan,
  • Kebaikan,
  • Kesetiaan,
  • Kelemahlembutan,
  • Penguasaan diri.

Orang yang berakar, bertumbuh dan berbuah dalam roh hidup dan tingkah lakunya dipimpin oleh roh bukan oleh daging. (Galatia 5:19-21)

“Kalau Tuhan mengijinkan badai bukan untuk menghentikan lagu kita melainkan supaya dunia akhirnya mendengar LAGU YANG LAHIR DARI KEDEWASAAN IMAN KITA.”

Doa

Bapa di surga, ajarku menjadi seperti Deodar Cedar. Ketika angin kehidupan bertiup kencang, jangan biarkan bibirku dipenuhi keluhan. Penuhi hatiku dengan penyembahan yang lahir dari iman kepada-Mu. Biarlah setiap badai justru memperdengarkan kemuliaan-Mu melalui hidupku. Dalam nama Yesus. Amin.

©2022 GBI Tabgha Batam. All Rights Reserved.