SEPERTI POHON KURMA
“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma…” — Mazmur 92:13
Cara menanam Kurma Dalam Tradisi agrikultur kuno di Timur Tengah, mereka harus menggali pasir agak dalam, meletakkan biji kurma pilihan lalu menindihnya dengan batu besar di atasnya.
Tujuannya:
Pertama, sebagai pelindung.
- Mengurangi penguapan air.
- Melindungi bibit dari angin gurun yang kadang menerbangkan pasir diatasinya sehingga biji kurma terbuka dan terpapar matahari.
- Menjaga kelembapan tanah pasir di bawahnya.
Kedua, membentuk akar yang kuat.
Ketika biji kurma ditindih batu, akar akan dipaksa turun lebih dalam untuk menemukan air dibawahnya.
Ketiga, mereka percaya bahwa tanaman yang menghadapi lingkungan keras sering mengembangkan sistem akar yang lebih dalam dan kuat di banding tanaman yang selalu dimanjakan.
Kurma memang terkenal memiliki kemampuan mengembangkan akar yang dalam untuk mencari sumber air di lingkungan kering.
Setelah menemukan air, barulah tunasnya mulai tumbuh ke atas. Makin lama makin kuat, dan dengan kekuatannya sendiri ia akan mendorong dan menyingkirkan batu itu, kemudian muncullah baby kurma yang kokoh kepermukaan dan terus menjulang.
Ingat Gideon
Di tengah tekanan bangsa Midian ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan di gua persembunyiannya. Lewat perjumpaan itu ia menemukan kembali jati dirinya,
Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: ”Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!” (Hakim-hakim 6:14)
Sering kali ketika ada “batu” yang berat menindih hidup kita:
- Tekanan dalam pekerjaan.
- Bisnis yang kelihatannya gagal.
- Keterlambatan jawaban doa.
- Kesulitan ekonomi.
- Penyakit.
- Tantangan pelayanan.
- Dan lain-lain.
Kita selalu berdoa agar batu itu segera Tuhan singkirkan.
Tetapi kadang Tuhan memakai batu itu untuk membuat akar kita masuk lebih dalam ke dalam hadirat-Nya. Supaya otot rohani kita menjadi kuat dan mampu mendorong batu itu.
Sebab itu jika Tuhan belum mengangkat “batu” itu dengan cepat, pahamilah bahwa Tuhan sedang memakai “batu” itu untuk membawamu ke Heptapegon Sumber kehidupan dan kekuatanmu.
- Jika tidak ada tekanan, mungkin kita tidak akan berdoa lebih sungguh-sungguh.
- Jika tidak ada kebutuhan, mungkin kita tidak akan mencari Tuhan lebih dalam.
“Batu yang Tuhan izinkan berada di atas hidup kita itu bukan untuk menghancurkan kita, melainkan untuk memaksa akar iman kita masuk lebih dalam.”
Pohon yang besar bukanlah pohon yang tidak pernah mengalami tekanan, melainkan pohon yang akarnya telah belajar mencari sampai menemukan sumber kehidupan yang lebih dalam.
JANGAN MENYERAH HANYA KARENA MUSIM HIDUPMU SEDANG SULIT!
- Pohon kurma tidak berhenti berbuah hanya karena cuaca panas.
- Dan orang percaya tidak dipanggil menyerah hanya karena keadaan sulit.
Aplikasi hari ini:
- Jangan lari dari proses pembentukan Tuhan.
- Tetap berdoa meski belum melihat jawaban.
- Cari Tuhan lebih dalam di musim sulit.
- Percaya bahwa padang gurun juga bisa menjadi tempat pertumbuhan.
“Musim sulit tidak selalu berarti Tuhan jauh; kadang Tuhan sedang memperdalam akar kita.”
Doa
Tuhan, ketika hidup terasa seperti sedang di tindih beban yang berat, tolong aku tetap percaya kepada-Mu. Jangan biarkan hatiku menjadi pahit atau menyerah. Ajarku menemukan sumber kekuatan di dalam hadirat-Mu. Amin.