IMAN DI TENGAH KETIDAKPASTIAN
Ps. Alvi Radjagukguk
Satu hal yang PASTI terjadi dalam hidup ini adalah KETIDAKPASTIAN.
Orang percaya pun tidak luput dari ketidakpastian
Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: ”Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan ”Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.
Pakar ahli saraf, mengatakan bahwa terdapat 5 kriteria penting bagi otak manusia untuk menilai apakah ia ada dalam situasi hidup yang sedang baik-baik saja atau situasi yang sedang tidak mengenakan.
Yang disebut sebagai S.C.A.R.F.
S = Status.
C = Certainty ; kemampuan memprediksi masa depan.
A = Autonomy ; kemampuan menentukan hasil akhir.
R = Relatedness ; kemampuan terhubung dengan orang disekitarnya.
F = Fairness ; keadilan.
Ternyata “CERTAINTY” atau kepastian merupakan natur manusia, sehingga kita cenderung selalu ingin dapat memprediksi masa depan. Itulah sebabnya ketika manusia menghadapi suatu ketidakpastian, respon keliru yang wajar untuk muncul adalah khawatir, cemas, takut, frustasi, bahkan kehilangan harapan.
Namun bagi kita orang percaya, justru dalam ketidakpastian itulah IMAN kita diuji. Iman akan berperan sangat penting ketika realita yang sedang kita hadapi berbeda dengan ekspektasi yang kita miliki.
Iman kita tidak bisa didasari dengan apa yang kita lihat. Karena jika segala sesuatunya dapat dilihat, maka kita tidak akan memerlukan iman. Sementara tanpa iman mustahil seseorang berkenan kepada Allah.
Ada 3 hal yang dapat dilakukan supaya iman kita tidak goyah ketika kita menantikan pembalikan ilahi :
- WATCH YOUR NARRATIVE
Fungsi kata-kata pertama yang dicatat di Alkitab, bukan hanya sekedar untuk komunikasi, melainkan untuk menciptakan! Ketika Allah berfirman “Jadilah terang!” bumi dan segala isinya diciptakan oleh perkataan. Kuasa perkataan yang sama, juga terkandung dalam diri kita. Teruslah memperkatakan hal yang baik dalam situasi yang tidak baik sekalipun, karena adalah lebih baik tidak mengerti daripada tidak percaya.
Kata-katamu akan menciptakan realitamu!
- LET GOD BE GOD
Izinkan Tuhan berdaulat atas hidupmu. Jangan berusaha jadi Tuhan dengan ingin mengendalikan semuanya. Yesus sendiri menjadi teladan bagi kita, ketika Ia mengalami situasi dimana seolah-olah Allah Bapa diam. Yesus memberikan teladan agar kita rela melepaskan hak kita dan menyerahkannya kepada Bapa, agar terjadi sesuai dengan kehendak-Nya.
- TRUST GOD’S HEART
Dalam masa penantian pembalikan ilahi terjadi, tetap percaya hati Tuhan. Hati Tuhan bagi kita tidak pernah berniat buruk ketika Ia izinkan kita untuk menghadapi sebuah situasi, seperti yang ternyata dalam Firman Tuhan bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya”